Patirtan Jolotundo, Warisan Sejarah yang Hidup dalam Spiritualitas dan Tradisi Masyarakat

Mojokerto, 26 Januari 2026 – Patirtan Jolotundo, salah satu situs peninggalan sejarah paling penting di Kabupaten Mojokerto, terus menjadi bukti kebesaran peradaban kuno Jawa serta pusat aktivitas spiritual dan budaya bagi masyarakat. Terletak di lereng utara Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, sekitar 55 km dari Kota Surabaya, tempat ini tidak hanya menyimpan nilai sejarah mendalam tetapi juga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat hingga kini.

Sejarah yang Mendalam: Dari Monumen Kasih hingga Tempat Pertapaan

Menurut catatan resmi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Mojokerto, patirtan ini dibangun pada tahun 899 Saka (sekitar tahun 977 Masehi) pada masa Kerajaan Kahuripan, sebagai monumen cinta Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga. Konon, tempat ini juga menjadi lokasi pertapaan Airlangga setelah mengundurkan diri dari tampuk kekuasaan dan menyerahkan tahta kepada anaknya.

 

Struktur bangunan yang terbuat dari batu andesit menunjukkan keahlian tinggi dalam seni memahat dan konstruksi pada masa itu. Dinding patirtan dihiasi motif yang mencerminkan pengaruh budaya Hindu, dengan sistem pengairan yang masih berfungsi hingga saat ini – salah satu keunikannya adalah debit air yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Patirtan juga dibagi menjadi dua bagian, utara untuk Wanita dan selatan untuk Pria, yang menggambarkan tata cara ritual pemandian kuno.

Spiritualitas dan Tradisi yang Terjaga

Air di Patirtan Jolotundo dipercaya masyarakat memiliki khasiat penyembuhan dan dapat memberikan kesucian. Hingga kini, banyak peziarah datang untuk berziarah atau melakukan ritual mandi suci, terutama pada malam-malam penting seperti Malam Satu Suro.

Sebuah tradisi yang menjadi tonggak pelestarian budaya adalah Ruwat Agung Patirtan Jolotundo, yang terakhir digelar dengan keikutsertaan Bupati Mojokerto. Prosesi ini melibatkan pengambilan air dari 33 titik sumber mata air di empat penjuru lereng Gunung Penanggungan, yang kemudian dicampurkan dalam acara Manunggaling Tirto dan diarakkan dalam kirab budaya. Kegiatan ini tidak hanya diikuti masyarakat lokal tetapi juga pelestari adat dari Bali dan Jawa Tengah, sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan wujud syukur atas kelimpahan sumber air.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, menyatakan bahwa tradisi ini menjadi bagian penting dalam melestarikan warisan leluhur dan memperkuat hubungan antara manusia dengan alam.

Destinasi Wisata Sejarah yang Menginspirasi

Sebagai objek wisata sejarah, Patirtan Jolotundo buka 24 jam setiap hari dengan tarif tiket masuk yang terjangkau: Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak. Selain menikmati keindahan arsitektur kuno dan kejernihan air mata air, pengunjung juga dapat merasakan suasana damai dan keindahan alam sekitar Gunung Penanggungan.

Pada tahun 2021 silam, kawasan ini pernah ditutup sementara akibat kejadian pohon tumbang yang menimpa warung dan menimbulkan korban jiwa. Namun, setelah melalui evaluasi dan mitigasi bersama pihak Perhutani, patirtan kembali dibuka untuk umum dengan langkah-langkah pengamanan yang lebih baik.

Baru-baru ini, pada Oktober 2025, pemerintah daerah juga terus meningkatkan fasilitas pendukung wisata di sekitar kawasan, meskipun fokus utama tetap pada pelestarian nilai sejarah dan budaya situs itu sendiri.

Makna Filosofis yang Abadi

Patirtan Jolotundo bukan sekadar bangunan batu kuno, melainkan simbol penting tentang hubungan antara manusia, sejarah, dan alam. Nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya telah melampaui batas waktu dan agama, menjadikannya tempat berkumpulnya berbagai elemen budaya yang memperkaya identitas masyarakat Jawa Timur. (red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *