Penulis: KBP(P) Dr.H.M.Zarkasih, SH.,MH.,MSi

Di antara riuh sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ada nama-nama besar yang tercatat dalam buku sejarah. Namun di balik itu, ada pula para pejuang sunyi yang tidak banyak dikenal, tetapi darah, air mata, dan pengorbanannya ikut menegakkan Merah Putih di bumi pertiwi.
Salah satunya adalah seorang putra Betawi bernama Ilyas Mukmin. Ia bukan jenderal besar. Bukan tokoh politik terkenal.
Bukan pula pahlawan yang namanya diabadikan di jalan-jalan ibu kota.
Namun bagi keluarganya, bagi sahabat perjuangannya, dan bagi bangsanya, Ilyas adalah seorang patriot sejati.
Darah Betawi dan Rusia
Ilyas lahir dari pasangan Muhammad Mukmin, seorang pria Betawi tulen, dan Hellen, perempuan keturunan Rusia yang hidup di Hindia Belanda pada masa sebelum Perang Dunia II. Dari keluarga sederhana itulah Ilyas tumbuh bersama dua orang adiknya dalam suasana kerasnya kehidupan kolonial.
Sejak kecil, Ilyas dikenal pendiam namun kuat pendirian. Tubuhnya tegap, matanya tajam, dan pikirannya cepat memahami keadaan sekitar. Darah Betawi membuatnya berani dan tegas, sementara didikan ibunya membentuk dirinya menjadi pribadi disiplin dan tahan menghadapi tekanan hidup.
Ketika Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, keadaan negeri berubah drastis. Banyak pemuda direkrut untuk membantu kepentingan militer Jepang. Ilyas termasuk salah satunya.
Karena kecerdasannya dan fisiknya yang kuat, ia diterima menjadi anggota militer Jepang dan ditempatkan di kapal perang Angkatan Laut Jepang. Di sana, ia mendapatkan pendidikan militer keras: disiplin, strategi perang, kemampuan bertahan hidup, hingga teknik intelijen dan sabotase.
Namun jauh di dalam hatinya, Ilyas sadar bahwa tanah yang dipijaknya adalah Indonesia, bukan milik penjajah mana pun.
Memilih Merah Putih
Saat proklamasi kemerdekaan berkumandang pada 17 Agustus 1945, hati Ilyas berguncang. Ia melihat kesempatan bangsa Indonesia untuk berdiri merdeka setelah ratusan tahun dijajah.
Dengan keberanian besar, Ilyas meninggalkan militer Jepang dan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) di wilayah perjuangan Karawang–Bekasi, Jawa Barat.
Di sana, pasukan perjuangan berada di bawah komando seorang pemimpin lapangan yang disegani: Mayor Lukas, dengan markas perjuangan di wilayah Rengasdengklok.
Wilayah Karawang dan Bekasi saat itu menjadi medan pertempuran yang sangat keras. Tentara Belanda dan Sekutu terus berusaha merebut kembali Indonesia. Pertempuran terjadi hampir setiap hari. Rakyat hidup dalam ketakutan, namun semangat kemerdekaan tidak pernah padam.
Karena memiliki pengalaman militer dari Jepang, Ilyas ditempatkan dalam sebuah unit intelijen rahasia yang dikenal dengan nama yang menakutkan:
“Unit Tengkorak Hitam”
Unit ini bergerak dalam bayang-bayang.
Mereka bukan pasukan garis depan biasa.
Tugas mereka adalah menyusup, mengintai, mengumpulkan informasi, dan melakukan sabotase terhadap kekuatan Belanda.
Malam hari mereka bergerak tanpa suara.
Siang hari mereka menyamar menjadi rakyat biasa.
Mereka menyerang konvoi militer Belanda di jalur Karawang–Bekasi, membakar logistik musuh, memutus jalur komunikasi, dan menghilang sebelum musuh sadar dari mana serangan datang.
Ilyas menjadi salah satu anggota terbaik dalam unit tersebut. Menyusup ke Jantung Musuh
Untuk mendapatkan informasi penting, Ilyas dan beberapa rekannya menyusup ke Jakarta yang saat itu masih dikuasai Belanda.
Dengan menyamar sebagai pribumi biasa, Ilyas bekerja di tangsi militer Belanda sebagai montir kendaraan. Kepandaiannya memperbaiki mobil membuatnya dipercaya. Bahkan ia juga dikenal sebagai pengemudi yang sangat handal.
Dari situlah ia mulai mengumpulkan informasi penting:
pergerakan pasukan,
jadwal konvoi,
posisi persenjataan,
hingga rencana operasi militer Belanda.
Semua informasi itu disalurkan secara rahasia kepada pasukan Mayor Lukas di Rengasdengklok.
Padahal saat itu, nyawa menjadi taruhannya.
Jika tertangkap, hukuman mati menantinya.
Rindu Seorang Ayah
Di tengah kerasnya perjuangan, Ilyas tetaplah manusia biasa. Ia memiliki seorang istri dan seorang anak laki-laki yang tinggal di daerah Tanah Abang, Jakarta.
Karena tugas yang sangat berbahaya, Ilyas jarang pulang menemui keluarganya. Ia hanya bisa memendam rindu di dalam hati.
Namun suatu hari, karena rasa rindunya yang begitu besar kepada anak dan istrinya, Ilyas diam-diam mencoba menemui keluarganya.
Takdir berkata lain.
Terjadi kebocoran intelijen. Ilyas ditangkap oleh militer Belanda dan dibawa ke rumah tahanan militer di daerah Glodok, Kota Jakarta.
Di ruang interogasi, ia dipukuli, ditekan, dan dipaksa mengaku sebagai pejuang Republik Indonesia.
Namun Ilyas tetap bertahan. Dengan tenang ia mengatakan:
“Saya hanya montir mobil… saya pekerja biasa.”
Ia tidak pernah mengkhianati perjuangan dan rekan-rekannya.
Sepak Bola dan Perjuangan Rahasia
Di dalam tahanan, Ilyas menunjukkan kemampuan lain yang tak banyak diketahui orang: ia sangat pandai bermain sepak bola.
Pada waktu-waktu tertentu, beberapa tahanan diizinkan keluar sel untuk berolahraga. Saat itulah kemampuan Ilyas menarik perhatian seorang perwira Belanda.
Karena permainan bolanya sangat baik, Ilyas kemudian diajak bergabung dalam tim sepak bola militer Belanda di Jakarta. Tanpa disadari pihak Belanda, kesempatan itu justru menjadi jalan bagi Ilyas untuk bergerak lebih bebas.
Ia mulai kembali mengumpulkan informasi penting tentang aktivitas militer Belanda dan menyalurkannya secara rahasia kepada pasukan TRI.
Di balik bola yang ditendangnya di lapangan hijau, tersembunyi perjuangan besar untuk Republik Indonesia.
Indonesia Merdeka
Perjuangan rakyat Indonesia berlangsung panjang dan berdarah-darah. Banyak pejuang gugur tanpa nama. Banyak keluarga kehilangan ayah, anak, dan saudara. Namun semangat perjuangan tidak pernah runtuh. Hingga akhirnya, dunia mengakui kemerdekaan Indonesia.
Setelah perang usai, Ilyas resmi bergabung dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan bertugas di lingkungan Markas Besar TNI Angkatan Darat.
Ia menjalani hidup sebagai prajurit dengan sederhana dan penuh pengabdian.
Hingga akhirnya pada tahun 1970-an, Ilyas mengakhiri masa dinasnya dengan pangkat terakhir: Sersan Mayor
Atas jasa dan pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, negara memberikan penghormatan kepadanya sebagai seorang Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia.
Warisan Perjuangan
Dari pernikahannya, Ilyas dan istrinya dikaruniai tujuh orang anak: lima laki-laki dan dua perempuan. Darah perjuangan itu ternyata mengalir kepada anak-anaknya. Sebagian putranya meneruskan pengabdian kepada negara: ada yang bertugas di TNI AD,
ada yang mengabdi di Kejaksaan Republik Indonesia, ada yang menjadi prajurit Marinir TNI AL, dan putra bungsunya menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia.
Ilyas bukan tipe ayah yang banyak bicara.
Ia pendiam. Keras dalam prinsip hidup.
Namun sangat lembut kepada keluarganya.
Kasih sayangnya tidak banyak diucapkan, tetapi dirasakan dalam tanggung jawab dan pengorbanannya sepanjang hidup.
Pahlawan bagi Keluarganya
Pada akhirnya, waktu memanggil sang pejuang tua. Ilyas Mukmin wafat dan dimakamkan di TPU Karet Tengsin, Jakarta.
Ia tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Namanya mungkin tidak tertulis dalam buku sejarah nasional. Namun bagi keluarganya, Ilyas adalah pahlawan sejati.
Seorang ayah yang mempertaruhkan nyawanya demi Merah Putih.
Seorang suami yang menahan rindu demi kemerdekaan bangsanya. Seorang prajurit yang tetap setia kepada Indonesia hingga akhir hayatnya.
Dan sesungguhnya, kemerdekaan bangsa ini bukan hanya dibangun oleh nama-nama besar, tetapi juga oleh orang-orang seperti Ilyas Mukmin — pejuang sunyi yang mengorbankan hidupnya tanpa meminta balasan.
Penutup
Semoga perjuangan, pengabdian, dan keteladanan Ilyas Mukmin menjadi cahaya bagi anak cucunya, serta inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus mencintai bangsa dan negaranya.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan perjuangan para pendahulunya.
Selamat jalan, Babe Ilyas…
Namamu mungkin sederhana di mata dunia,
tetapi begitu besar di hati keluargamu dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Semoga seluruh amal ibadah, jasa, dan pengorbananmu diterima di sisi-Nya.
Aamiin Ya Rabbal Alamin. ( Dr.HMZ)




